| Salah satu fokus utama dari industri pangan adalah upaya untuk memperpanjang masa simpan bahan dan produk pangan; dengan tujuan memperoleh produk pangan yang awet dengan cara menghambat atau mencegah faktor penyebab kerusakan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka dikembangkanlah berbagai teknik pengawetan, antara lain dengan cara mengendalikan (i) pertumbuhan mikroba (bakteri, kapang, kamir), (ii) aktivitas enzim dan reaksi kimia lainnya, (iii) suhu, (iv) perubahan kadar dan aktivitas air, (v) paparan terhadap oksigen dan cahaya, serta (vi) stress fisik dan mekanik selama penanganan dan distribusi. Tentunya banyak teknik pengolahan dan pengawetan yang telah dikembangkan untuk mendapatkan produk yang awet dan tetap aman, bergizi, bermutu dan mampu memenuhi tuntutan konsumen –shelf stable products.
Shelf stable products tidak membutuhkan lagi rantai dingin, baik dalam distribusi maupun penyimpanannya. Berbagai macam teknologi telah dikembangkan untuk membuat produk menjadi shelf stable.
Salah satu teknologi yang paling tua adalah pemanasan, terutama sterilisasi. Di awali oleh penemuan Nicholas Appert akan teknologi pengalengan untuk memenuhi kebutuhan pasukan Perancis, kini teknologi tersebut semakin berkembang. Sterilisasi kini tidak hanya lagi dilakukan pada kaleng, tetapi juga bahan kemasan lain seperti plastik dan kertas.
Teknologi lain yang juga sering digunakan untuk menghasilkan shelf stable product adalah teknologi iradiasi. Sampai saat ini, masih banyak konsumen yang masih meragukan keamanan dari metode ini. Namun, teknologi ini telah melalui serangkaian uji ilmiah, yang tidak hanya membuktikan keefektifannya, tetapi juga tingkat keamanannya. Di Indonesia, produk-produk iradiasi wajib mencantumkan logo khusus pada label kemasannya.
Teknologi-teknologi tersebut sangat bermanfaat bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, yang masih memiliki fasilitas rantai dingin terbatas. Inovasi shelf stable product akan memudahkan konsumen dalam memperoleh dan menyimpan produk tersebut secara aman (tanpa lemari pendingin) namun tetap bergizi tinggi.
Salah satu faktor utama untuk memperoleh produk yang shelf stable adalah pengemasan. Dalam kaitannya dengan pengemasan ini; FOODREVIEW Indonesia juga membahas perkembangan terakhir mengenai keamanan kemasan yang mengandung bisphenol A. beberapa topik menarik lainnya juga dibahas dalam FOODREVIEW INDONESIA edisi ini.
Kami mengharapkan informasi-informasi tersebut dapat berguna dalam meningkatkan daya saing industri pangan Indonesia. Selamat membaca. |